Ada yang bilang, musuh terbesar lo adalah diri lo sendiri. Bukan orang lain, bukan Negara lain, bukan kondisi keuangan, bukan pemerintah, bahkan bukan kondisi kesehatan lo. Tapi elo itu sendiri. Seperti rasa malas, takut, egois, gampang menyerah, sombong, tidak bersyukur, dan sebutin aja sendiri, masih banyak daftar lainnya. Jadi hal2 tersebut itulah yang sebenarnya menjadi musuh terbesar lo, penghalang terhebat, tembok terkuat yang menahan lo dari keberhasilan.
Kalo lo baca kisah orang-orang sukses, justru mereka bisa sukses karena mau pindah dari keadaan miskin, sakit, dan segala kekurangan lainnya menuju impian mereka. Mereka bukan sukses karena punya modal banyak, kesehatan prima, atau bahkan usia yang prima. Semua faktor yang lo pikir lo butuhkan untuk sukses hampir2 tidak dimiliki oleh mereka pada awalnya. Tapi karena mereka mau melawan segala keterbatasan dan kekurangan diri mereka, mau terus belajar, berkembang, bekerja keras dan bersyukur, akhirnya orang2 luar biasa tersebut menggapai mimpi yang tadinya mustahil bagi sebagian besar orang.
Apa hubungannya sama hiking atau mendaki gunung?
Hiking sendiri bagi gua (mungkin juga bagi para pendaki yang lain) tak lain adalah sebuah simulasi dalam menjalani kehidupan nyata. Yang pertama-tama sekali harus elu lakukan adalah menetapkan tujuan atau nama lainnya adalah target, atau yang lebih muluk lagi adalah mimpi. Kita untuk bisa berhasil tentunya harus punya arah tujuan mau kemana kita akan melangkah kan? Coba aja lo naek taxi, trus bilang ama abang taxinya “kemana aja deh bang terserah…”. Bingung gak? Jadi lo harus punya tujuan yang jelas kemana lo mao pergi. Karena definisi dari keberhasilan menurut gw adalah ketika lo berhasil mencapai tujuan yang udah lo buat. Jadi kalo lo punya target mao jalan dari kamar lo ke kamar mandi dan nyampe, namanya lo udah berhasil udah sukses nyampe ke kamar mandi! Hehe… Okey, kita kembali ke track. Dalam hal ini, tujuan yang kita kita buat misalnya adalah menapakkan kaki di puncak gunung gede (seperti yang telah kami lakukan tanggal 28 Desember 2008 lalu) dan pulang lagi dengan selamat sampai dirumah (ini gak boleh lupa, hehe). Jadi lo bikin target, tujuan, mimpi yang jelas.
Kemudian setelah mempunyai tujuan, yang kemudian lo lakukan adalah mempelajari gimana caranya gua nyampe ke tujuan gua. Cara yang paling efektif adalah bertanya dan belajar langsung dari yang sudah berhasil duluan. Kalo mo naek ke gunung gede, yah minimal harus ditemani oleh mentor yang sudah pernah sampe puncak. Jadi kita tau, kondisi apa yang bakal kita hadapin, berapa jarak yang akan ditempuh, berapa lama perjalanan, dll. Kalo tujuan lo adalah naek gunung, cara paling goblok adalah nekat naek tanpa pengetahuan apapun (tapi untuk selain kegiatan yang menantang maut, justru cara yang sering dipakai oleh orang sukses adalah nekat memasuki dunia mimpi mereka walau tanpa pengetahuan dan persiapan terlebih dahulu, action first! Learn later).
Lalu setelah itu mulailah kita melakukan persiapan. Persiapan ini berupa persiapan mental, fisik, dan perlengkapan serta peralatan (by the way, gua masih bingung ngebedain antara perlengkapan dan peralatan, jelasin di comment dibawah ya, hehehe). Misalnya kita mulai jogging, di Gandewa kita biasa jogging setiap hari kamis sore jam 4.30 an, dan kita sangat senang kalo ada yang mo jogging bareng kita. Terus tentunya kita harus siapin alat seperti carrier, sleeping bag, matras, senter, jaket, spatu trekking, dll. Nah pentingnya kita mempelajari tujuan kita adalah tidak semua alat2 ini perlu dibawa ke semua tempat, tergantung suhu, kondisi alam, dll. Trus juga kita harus siapin makanan, minuman, alat masak. Kemudian transportasi dan perizinan. Untuk gua pribadi, persiapan mental sangatlah penting. Karena gw seneng baca buku atau nonton film2 inspiratif seperti “The Pursuit of Happiness” atau Seri Film “Rocky”, lo bakal tau bahwa untuk mencapai tujuan, kita pasti akan capek, nangis, frustasi, bosen, takut, dll. Tapi kunci keberhasilannya cuma satu, yaitu apapun yang terjadi tetep jalan terus ga menyerah.
Setelah semua persiapan dilakukan, saatnya action! Untuk kondisi gunung tertentu, lo bakal ngerasain rasanya bawa kulkas 2 pintu di punggung lo (lebai abis, hahaha). Dan jalan yang lo hadapin bukanlah lantai marmer trus ada lift atau escalator, melainkan jalur menanjak yang panjang dan berbatu. Rasa takut, lelah, sakit, terus menemani kita sepanjang perjalanan. Belum rasa basah, dingin, dan kantuk yang sangat mengganggu sekali. Ini semua adalah simulasi dari hal yang sama dalam kehidupan lo juga. Masalah bakal banyak banget menghadang. Beban di punggung lo bakal berat parah. Tapi seperti yang gua bilang tadi, keep moving forward. Nah disinilah pelajarannya dimulai. Menghadapi kondisi tersebut, akhirnya lo diharuskan untuk berpikir gimana caranya gua survive dan nyampe. Misalnya, dengan ngunyah permen karet, konsentrasi lo yang tadinya hanya mikirin kaki sakit dan capek akhirnya terbagi dengan harus ngunyah permen yang mengakibatkan lo gak terlalu mikirin sakit dan capek lagi (Dahyan Davis (DDS), 2008). Atau ngobrol, atau nyanyi2 yang berbau curhat (Gigih Gesang, 2008), hehehe.. Atau juga misalnya lo akan mikir gimana caranya biar gak kedinginan, gak basah, atau gak terlalu capek. Apapun itu, lo harus mikir untuk bisa survive dan nyampe dengan enjoy. Disinilah lo akan make kata2 yang namanya sugesti, kreativitas, kesabaran, kerja keras, pantang menyerah, dan kata2 positif lainnya untuk menggambarkan perjuangan lo. Ya, perjuangan. Lo bakal tau rasanya berjuang disini.
Tapi bro, kalo lo udah sampe tujuan, lo bakal teriak “ALHAMDULILLAAAAAAAH!” (mungkin “Puji Tuhan buat agama lain, hehe) dan lo bakal tersenyum lebar bro, lupa akan semua penderitaan lo sepanjang perjalanan. Indahnya, nikmatnya dari sebuah keberhasilan adalah kebahagiaan yang dirasakan selalu mengalahkan penderitaan yang dirasakan sebelumnya. Nah, kunci dari makan enak adalah perut laper. Kita digunung makan makanan seadanya dengan tingkat higienis yang rendah dalam keadaan laper jauh lebih nikmat disbanding makan di American grill dalam keadaan kenyang. Jadi lo hanya akan bahagia ketika berhasil jika dan hanya jika lo menderita karena kerja keras untuk mencapainya. Gak laper, makan gak nikmat bro.
Sir Edmund Hillary sang pionir penakluk everest bilang “Bukan gunung yang lo taklukkan, melainkan diri lo sendiri”. Itu adalah satu bekal gua yang paling gw pegang teguh setiap gua naek gunung. Dan harusnya bekal ini di pake di setiap aspek kehidupan elu. Mita 2006 sebelumnya belum pernah naik gunung dan gak melakukan persiapan memadai. Dia sakit sepanjang perjalanan dan gak mau makan. Sempat muntah dan lemah sekali. Tapi dia menginjakkan kaki di puncak gunung Gede dan sembuh seketika pas nyampe di pos gunung putri trus senyum bahagia sambil motret2 pemandangan.
Gua sering bercanda kalo lagi capek2nya naik “Siapa sih yang puny ide goblok ngajak naik gunung?? Capek tau!” atau “Orang dimana-mana bayar mahal buat nginep dihotel dan mencari kenyamanan, kita bayar mahal buat tidur gak nyaman, kedinginan, makan seadanya, capek, pegel. Aneh abis”. Tapi ya itu, kebahagiaan ketika kita bercanda dengan teman seperjalanan, makan bareng, trus menikmati oksigen segar pegunungan, jauh dari knalpot mobil, air yang segar, (kulkas atau AC gak bakal laku dijual disini), pemandangan indah luar biasa dahsyat bisa membuat kita semakin melihat kebesaran Alloh SWT. Betapa hebat ciptaanNya. Kita jadi bersyukur terhadap semua yang kita punya dan bukan tidak bersyukur atas apa yang kita nggak punya. Tawa canda bahagia, diselingin tebak2an goblok dan ceng2an menjadi bumbu indahnya perjalanan.
Tentu tujuan terakhir dari naik gunung adalah………. Foto2 dan upload di facebook serta membuat elu2 yang kagak ikut ngiri! Huehehehehehehe……
Overall, naik gunung bagi gw adalah pengembangan diri yang paling alamiah ketimbang lo ikut sebuah training atau baca buku atau ikut seminar (semua sering gw lakukan). Dan naik gunung adalah yang paling efektif dan nikmat luar biasa.
Jadi kenapa hiking atau naik gunung? Karena kita mau jadi orang yang lebih baik, mencapai hal yang mustahil, menikmati dan mensyukuri kebesaran Tuhan serta merasakan yang namanya BAHAGIA :)
P.S. Kekhawatiran orang tua yang melarang anaknya naik gunung sungguhlah baik dan wajar. Namun melihat manfaat yang bisa didapat sang anak. Izin yang memberikan tanggung jawab bisa menjadi alternatif yang lebih baik. Alam sungguhlah berbahaya, cuaca bisa menjadi bencana. Justru itulah dibentuk organisasi pecinta alam, kalo di Psiko namanya Gandewa. Untuk mempersiapkan ilmu dan bekal yang memadai untuk survive dalam keadaan seburuk apapun di Alam. Mindset yang gua tawarkan adalah begini “orang tua bukannya melarang anaknya naik gunung karena tau bahwa sang anak adalah anak rumahan yang manja dan lemah melainkan justru karena anaknya adalah anak rumahan yang manja dan lemah mangkanya ikutan naik gunung biar semakin tangguh dan lebih baik lagi”
Ikut kita di perjalan2 berikutnya
Rono Jatmiko (G-002-ΨUI)
0 comments:
Post a Comment